Oliver Stone, a stone for an Oliver

by Nuruddin Asyhadie

Apakah bahasa Inggris Amerika untuk kata konspirasi atau skandal? Jawabannya adalah “Oliver Stone”. Tentu saja ini sebuah candaan. Nama Oliver Stone bagi kebanyakan orang Amerika Serikat sinonim dengan “konspirasi” dan “skandal.”

Oliver Stone merupakan salah satu pembuat film terbaik dalam sejarah AS. Ia telah menyutradarai 12 film kelas satu yang mampu membuat masyarakat Angku Sam (AS) memikirkan kembali pandangan mereka terhadap pemerintah, masyarakat dan diri mereka sendiri.

Stone lahir pada tanggal 15 September 1946 di New York City. Pada tahun 60-an, Amerika terlibat konflik dengan Vietnam. Orang-orang sepantaran Stone masa itu berlomba masuk universitas demi menghindar kewajiban berperang. Sebaliknya Stone justru keluar dari Yale untuk bergabung dengan tentara AS di Vietnam. Dalam perang tersebut ia dihadiahi Purple Heart karena mendapat tembakan di leher dan Bronze Star karena memusnahkan sarang senapan mesin dengan sekali granat.

Pengalaman Stone dalam perang merubah kehidupannya selamanya. Sekembalinya ke AS, Stone masuk New York University (NYU). Di sana ia belajar film dibawah bimbingan Martin Scorsese. Lulus dari sana, ia memulai karirnya sebagai penulis skenario. Karya-karya awalnya adalah 8 Million Ways to Die, Year of the Dragon, Scarface, Conan the Barbarian, The Hand, dan Midnight Express yang memberikan piala Oscar pertamanya.

Tahun 1986, Stone menulis dan menyutradarai dua film, yaitu Salvador dan Platoon. Salvador, meskipun tak dianggap sebagai salah satu film terbaik Stone, merupakan perkenalan pertama AS dengan pandangan politik Stone. Platoon dibuat berdasarkan pengalaman-pengalaman Stone selama Perang Vietnam. Film ini mengingatkan kembali warga AS akan perang yang ingin mereka lupakan. Tahun itu Stone menerima tiga nominasi piala Oscar: Best Director (Platoon) dan dua nominasi “Screenplay Written Directly for the Screen” (Platoon dan Salvador). Stone memenangkan Oscar untuk Best Director, sementara Platoon memenangkan Oscar untuk Best Picture.

Sesudah Platoon, Stone menulis dan menyutradari Wall Street dan Talk Radio. Kritikus dan penonton menyanjung dua film ini, memapankan nama Stone sebagai sutradar sekaligus penulis skenario.

Film selanjutnya, Born on the Fourth of July, yang menceritakan kehidupan veteran Perang Vietnam, Ron Kovic (yang turut pula menggarap skripnya), ditabiki oleh berbagai kalangan sebagai masterpiece dan karya terbaik Stone. Piala Oscar untuk Best Director pun kembali digondolnya.

Film yang membaptis Stone sebagai teoritikus konspirasi dan seniman kontroversial adalah JFK, yang dibuat setelah The Doors. Film ini menggali peristiwa pembunuhan John F. Kennedy dan kejadian-kejadian lain di seputarannya.

JFK dilanjutkan dengan Heaven & Earth, melengkapi trilogi film Perang Vietnamnya (setelah Platoon dan Born on the Fourth of July).

Natural Born Killers
, sebuah satir tentang pandangan- pandangan masyarakat AS terhadap para pembunuh, melimpahinya gelar Pecinta Kekerasan dan tuduhan sebagai inspirator bagi kematian sepuluh orang.

Nixon menjadi film “Godfather II” Stone. Di sini Stone menyajikan sosok Nixon, Presiden AS yang paling penuh teka-teki, yang sangat mencintai negeri dan penduduknya hingga untuk itu ia bersedia melakukan berbagai kejahatan.

Dua tahun kemudian Stone membuat U-Turn, dan dua tahun sesudahnya ia menyutradari Any Given Sunday, pandangannya terhadap sepak bola Amerika modern.

Di tengah keketatan jadwalnya pada tahun 1990-an, Stone masih sempat memproduksi dan menulis film lain. Film yang diproduksinya masa itu adalah Iron Maze, South Central, Zebrahead, The Joy Luck Club, Freeway, The People vs. Larry Flint, Savior, dan The Corruptor, sedang film yang ditulisnya adalah Evita.

Sesuai dengan namanya, “Batu Oliver” yang barangkali bisa dimaknai sebagai monumen hidup Oliver (sekutu Roland, seorang paladin Charlemagne yang paling tersohor, yang persahabatan mereka dilestarikan dalam sebuah frase “a Roland for an Oliver”, sebuah frase untuk jawaban atau respon yang adekuat), Oliver Stone adalah seorang patriot sejati. Ia ingin menyelamatkan negerinya dari kehancuran oleh ulah sendiri, memperingkatkan bahwa jika jika mereka tak berubah, maka negeri mereka akan runtuh. Pribadi yang juga dibutuhkan oleh negeri ini, negeri kita, Indonesia!

This entry was posted on 01:22 PM at 01:22 PM and is filed under Esei. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply