Biar Diam Lebih Memberinya Makna

by Nuruddin Asyhadie

Manusia tak pernah jenak duduk berdampingan bersama air mata, tak pernah nyaman mengenakan jubah hitam perkabungan. Berhadapan dengan maha duka seperti Tsunami 26 Desember, setiap orang bernafsu menabuh canang, mencari sebuah pelepasan, penghiburan, ubat ate.

Dalam bayang-bayang Le Realisme Courbet atau Manifestos of the Communist Party Marx dan Engels, sebagian besar penyair kita merasa berkewajiban meraut pensilnya. Dari para pesohor, seperti Rendra, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, Danarto, sampai nama-nama yang tak dikenal, bahkan yang baru kali itu menulis puisi.

Tak berhenti di sana, penyair-penyair ini “memprovokasi” rekan-rekan sejawatnya yang tak merespon bencana Tsunami 26 Desember, entah karena memang benar-benar tak memiliki ide menulis puisi atau sebagai sebuah pilihan sikap etis maupun estetis.

Gagasan mengenai kepedulian dan tanggung jawab seni terhadap masyarakat atau lingkungan sosialnya, tampak sepenuhnya baik, sebaik gagasan ekspresi diri seniman Romantik, sehinggga terasa sebagai sesuatu yang semestinya.

Tidak adakah implikasi-implikasi moral yang mendekam dalam seni, ketika ia memperlakukan tragedi di hadapannya sebagai kesempatan-kesempatan estetik? Terlebih lagi ketika ia, sebut saja “seni kemanusiaan” atau “seni bencana”–karena kekurangan pengandaian, masuk dalam sirkuit public sphere dan budaya konsumsi tingkat lanjut, tempat konsumsi dan produksi tak terpisahkan lagi?

“Menulis puisi setelah Auschwitz itu barbar,” tulis Theodor Adorno dalam esei berjudul “Cultural Criticism and Society” pada tahun 1945.

Pernyataan Adorno mengindikasikan bahwa meski rangsangan untuk bersuara sangat manusiawi dan dapat dipahami, meski menciptakan keindahan merupakan sebuah ekspresi jenuin dan fantastis dari hasrat manusia, pelayarannya sendiri tak pelak bersifat immoral.

“Transfigurasi menghapus kengerian di dalamnya,” tandas Adorno.

Bagaimana tidak? Bertatap muka dengan kengerian petaka, puisi dengan intensi-intensi pencapaian artistiknya, keyakinan-keyakinan profetikismenya, tampak bersikap narsistik, menari di atas derita korban, dan menciptakan kekacauan moral.

Adorno tak berusaha mengekang kreativitas puisi di hadapan bencana, ia hanya menyeru agar berhati-hati terhadap potensi puisi melahirkan identifikasi sadistis karena surplus kesenangan yang dikandungnya. Representasi bencana dalam puisi menyimpan sebuah perangkap yang harus diimbangi oleh penenggangan terhadap derita sang korban.

Adorno sendiri mengakui bahwa duka tak terperi tak bolah dilupakan. Duka, yang Hegel sebut sebagai kesadaran akan kemalangan, musti tetap eksis dalam puisi yang disalibnya. Dalam Negative Dialectics (1977), Adorno menulis bahwa derita abadi harus diekspresikan, sebagaimana orang terluka harus menjerit. Adorno pun mengoreksi kalimat “menulis puisi” dengan “menulis puisi liris”, sembari buru-buru menimpali bahwa koreksi tersebut bukan sebuah eufimisme.

Komentar-komentar Adorno memang membingungkan dan rentan disalahartikan. Di satu sisi ia menggarisbawahi tanggung jawab terhadap subject matter, di sisi lain ia mengakui peran puisi dalam mencagar ingatan akan bencana.

Adorno mengajukan diam sebagai jawaban terhadap kengerian tragedi. Bukan diam dalam arti sesungguhnya, namun proximity to silence. Pendapat itu diamini oleh para pemikir seperti Lyotard dan LaCapra, walaupun LaCapra menyadari bahwa respon diam dapat menjadi negative sublime yang membungkam segala bentuk representasi diri.

Pada stasi ini, sangat menarik mengindahkan pendapat Thane Rosenbaum, redaktur sastra Tikkun dan penulis The Golems of Gotham, dalam esainya “Art after Tragedy” (2002). Sebagaimana Adorno, Lyotard, dan LaCaptra, Rosenbaum juga menyetujui bahwa diam adalah respon utama terhadap sebuah bencana, bahkan keharusan. Perbedaannya, diam Rosenbaum tak sebatas proximity to silence, melainkan diam yang sesungguhnya.

Mendasarkan opininya pada pandangan Primo Levi mengenai keterbatasan kata-kata dalam melukiskan peristiwa-peristiwa besar, seperti Auschwitz, atau Tsunami 26 Desember, Rosenbaum menyarankan agar puisi “duduk manis” dan membiarkan jurnalistik berbicara. Jika pun puisi ingin menyingsingkan lengan ia harus menunggu waktu berlalu, agar sang penyair dapat merenungkan, mendudukan apa yang dilihatnya, dirasakannya, dan diimajinasikannya kembali dalam sebuah bentuk artistik. Rosenbaum telah memindahkan puisi bencana dari ranah memori ke postmemori.

Apakah dengan berlalunya waktu, potensi eksploitasi atau kesenangan dalam puisi bencana terhapus?

Membaca kembali Poetic Aristoteles, orang akan menemukan bahwa apapun bentuknya, tragedi-komedi, epik-lirik, memori-postmemori, selama puisi merupakan tindak mimetik, ia memiliki kecenderungan-kecenderungan eksploitasi. Mimesis merupakan upaya mendapatkan kesenangan dalam menikmati citraan-citraan yang tepat dari objek-objek yang saat seseorang menyaksikannya secara langsung akan merasa terluka.

Secara inheren, puisi mengandung hedonisme. Bukan hedonisme dalam pengertian tradisional, yaitu pencarian kesenangan yang terkait pada praktek-praktek spesifik, seperti makan, minum, seks, melainkan dalam definisinya yang lebih modern, pencarian kesenagan pada seluruh aspek pengalaman, yang berpaut tangan dengan disiplin puritanisme, melalui penjarakan dan pengontrolan emosi.

Puisi telah melangkaui identitasnya sebagai pemenuhan kebutuhan (ekspresi) dan menjadi pencarian kesenangan (eksploitasi). Ekspresi emosi natural–emosi yang menguasai dan mengontrol diri kita–dilawan, hingga yang tertinggal tak lebih dari emosi sadar atau permukaan.

Dalam puisi, manusialah yang mengekspresikan emosi, bukan emosi yang mengekspresikan manusia. Makna objek dan peristiwa dimanipulasi menjadi determinasi diri terhadap pengalaman-pengalaman emosional. Orang menikmati kengerian yang ditimbulkan oleh Tsunami 26 Desember, karena ia sengaja memilih untuk merasa ngeri. Kengerian itu berada di bawah kontrolnya, oleh sebab itu ia bisa merasa terhibur.

Bagaimanakah melepaskan puisi dari, meminjam istilah Jean-Marie Benoist, “Mereguk air mata dan terhenyak akan keasingan cita rasa yang berbeda dengan miliknya sendiri?” Mencegahnya agar tak menjadikan duka sebagai kesenangannya?  Namun merasakan duka itu sendiri? Bukan duka yang berasal dari dirinya? Tapi duka antara (the other)? Dan ketika sampai di sana, sanggupkah puisi melahirkan dirinya? Masih perlukah ia membangun monumen-monumen dirinya?

Barangkali, seperti saat puisi berhadapan dengan bencana, hanya ada satu jawaban terhadap segala pertanyaan ini: “Biar diam lebih memberinya makna.”

This entry was posted on 01:51 AM at 01:51 AM and is filed under Esei. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Biar Diam Lebih Memberinya Makna”

BINHAD Sunday September 21st, 2008 at 03:59 PM

Idemu keren juga, Din. Seperti orang Inggris bilang “silent is golden”. Tapi kalau semua orang diam dan menulis puisi adalah barbar, maka bar dangdut pun terancam sirna. Kayaknya, sesekali ajaklah Adorno ke bar dangdut.

Leave a Reply